Rabu, 20 November 2013

Cinta Tapi Beda



kita bisa merencanakan menikah dengan seseorang. Tapi kita tidak bisa merencanakan kita jatuh cinta kepada siapa.
Bunga Kering Perpisahan. Ini cerita tentang dua anak manusia. marcell namanya. Anak seorang pendeta. Humanis. Tak pasrah buta pada satu agama. Yang kedua, shifa namanya. Cantik. Taat beragama, patuh pada orang tua.
Mereka dipertemukan oleh asmara. Cinta mereka baik-baik saja. Sampai suatu ketika mereka bertemu dengan sekat maya yang tak pernah kita lihat rupanya: AGAMA. Di luar sana, sekat senada meski tak sama juga ada. Di Bali kita menyebutnya kasta. Jika agama horizontal, kasta relasi atas bawah. Ada yang merasa lebih tinggi dibandingkan yang lain. Persoalan jatuh cinta yang tersekat agama, juga kasta tak cuma urusan marcel dan shifa semata. Ada banyak dari mereka yang sedang dirundung masalah serupa.
Cerita tentang marcel dan shifa, pun menghadirkan duka. shifa menikah dengan kekasih pilihan orang tuanya. marcell meninggal dalam kesendirian, juga kesetiaan. Kita tahu tak semua cerita cinta (HARUS) berakhir bahagia.
Ada penggalan menarik dari puisi berikut:
Manusia lebih tua dari agama,
Sudah ada cinta sejak manusia diciptakan-Nya,
Cinta lebih tua dari agama,
Janganlah agama mengalahkan cinta.

Kita tidak pernah memilih lahir di keluarga mana, suku tertentu hingga agama apa. Kebetulan aja kita dilahirkan menjadi bagian dari keluarga Islam, Kristen, atau Hindu. Kebetulan saja kita dilahirkan menjadi suku Jawa, Batak atau Papua. Kebetulan saja kita dilahirkan di Amerika, Eropa atau Afrika. Kebetulan saja kita dilahirkan berwarna sawo gosong, kuning langsat atau pucat pias.
Jika cinta lebih tua dari agama, mengapa agama menjadi lebih kuasa? Agama seharusnya tidak menjadi penghambat mereka yang ingin menyatukan diri membina rumah tangga, hidup bahagia atau membangun impian setiap dari kita. Toh misalnya, agama yang kita anut, sebagian besar dianut karena faktor keturunan, warisan orang tua. Bukankah sedikit dari kita yang memeluk agamanya karena benar-benar pencarian spiritual?
Tapi cinta kerap irasional dan di luar logika. Karena itulah cinta menjadi kompleks, tidak terdefinisikan dan penuh warna. Termasuk ketika tersekat oleh agama. Dia datang pada waktu yang tak terduga, menyiksa bukan karena kita tak mampu menggapainya tapi karena kita tak mengerti bagaimana langkah untuk mewujudkannya. Karena penuh warna, maka cinta acap penuh drama.
Untunglah, tidak semua cerita cinta tapi beda agama harus setragis marcel dan shifa. Beberapa rekan kerja, berjuang untuk mempertahankan dan mewujudkan cerita cinta mereka. Ada asa bahwa yang terhalang sekat agama akan berakhir dengan sukacita. Aku senang melihat mereka berjuang dan berkorban untuk ini. Cinta memang sudah seharusnya saling menguatkan.
Bisa jadi soal (CINTA TAPI BEDA) ini sebenarnya sederhana jika relasinya hanya antara dua manusia yang mengalaminya. Tapi di Indonesia, jatuh cinta yang ingin diakhiri dengan pernikahan menciptakan relasi banyak pihak: orang tua, keluarga dan negara. Karena itulah cinta beda agama menjadi tidak sesederhana yang kita kira. Cinta bisa saja satu, tapi bukankah menikah perlu restu orang tua. Perjuangan memperoleh restu orang tua yang beda agama inilah yang kerapkali penuh drama.
Karena terlalu banyak faktor yang berkelindan itulah sebagian besar dari kita memilih pasangan yang relatif tidak banyak perbedaan sosial. Agama yang sama, suku yang sama. Kelas sosial yang sama.
Kenapa?
Seminimal mungkin perbedaan yang terbentang diantara kita, semakin sedikit usaha untuk meluruskan perbedaan yang kita punya. Pernikahan, meski aku belum mengalaminya, bukanlah untuk menyamakan perbedaan dua anak manusia. Melainkan membuat perbedaan yang ada menjadi seirama sehingga tujuan yang dicita-citakan tergapai dengan lebih cepat.
Lalu, apakah mereka yang beda agama, suku dan status sosial hidup bahagia hanyalah sebuah utopia? Tentu saja tidak. Hanya, jalannya menjadi lebih terjal. ‘Harga’ yang harus dibayar menjadi lebih mahal dan bisa jadi waktu yang dibutuhkan lebih lama. Karena simpangan dan derajatnya besar, kompromi terhadapnya juga menjadi lebih besar. Namun tidak semua dari kita bersedia berkorban terus menerus bukan? Karena itulah, perjuangannya mereka yang ‘cinta tapi beda’ menjadi lebih berat. Berbanggalah mereka yang menikah beda agama akhirnya bisa hidup bahagia.
Toh kalau mau mengikuti logika, kita sebenarnya bisa menghindari jalan terjal ‘beda agama’ ini. Jika sudah tahu beda agama, kenapa mesti didekati? Jika sudah tahu risikonya, kenapa mesti stalking diam-diam? Kenapa harus ada perhatian lebih dan mengapa harus membiarkan hati kita terbuka untuk dia. Bukankah sejak awal kita bisa membatasi diri tidak mengikuti rasa penasaran terhadap dia yang mencuri perhatian kita.
Toh, sebenarnya tidak ada yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Bukankah untuk bisa jatuh cinta kita mesti mengalami yang namanya pertemuan kedua, ketiga dan pertemuan-pertemuan berikutnya. Bukankah pada pertemuan-pertemuan selanjutnya kita mengetahui lebih banyak tentang dia. Bukankah artinya kita bisa berpikir waras bahwa ada jalan terjal yang akan menunggu di depan kita. Ah, tapi itulah cinta memang menabrak logika. Kalau sudah cinta, di ujung dunia pun akan kita kejar.
Cinta membuat kita kalap mata, buta terhadap risiko, nekat menerobos rambu-rambu dan ya begitu yang akhirnya terjebak pada situasi rumit yang sebenarnya bisa dihindari sejak awal. Kita terjebak pada dilema yang kita ciptakan sendiri. Ketika sudah masuk pada ‘pertemuan-pertemuan berikutnya’, pilihan jatuh cinta adalah pilihan dengan kesadaran. Kita tahu artinya. Termasuk jalan terjal yang mungkin akan ditempuh. Kita sadar risikonya.
Sayangnya, tidak setiap dari kita bisa memilih takdir yang kita suka…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar